Dalam sejarah filsafat Yunani Kuno, kita mengenal sekelompok orang yang dinamakan kaum Sofis. Secara harfiah, kata sofis berkaitan dengan kebijaksanaan. Mereka adalah deretan figur yang berwawasan luas, mahir berorasi, dan punya pengetahuan mendalam. Namun, praktik mereka memicu kritik keras dari para pemikir seperti Socrates dan Plato. Kebijaksanaan yang mereka miliki justru dikomersilkan—dijual demi mengejar imbalan materi dan popularitas.
Antara Kebijaksanaan dan Komersialisasi
Kaum Sofis zaman dulu pandai memikat audiens dengan kepiawaian bertutur kata, meski argumen yang disampaikan belum tentu berorientasi pada kebenaran sejati. Pengetahuan yang mestinya dipakai untuk memperjelas realitas dan mengedukasi masyarakat, malah bergeser menjadi sekadar alat mata pencaharian.
"Di tengah riuhnya suara para Sofis masa kini, tantangan terbesar kita adalah tetap jeli mendengarkan: mana suara yang benar-benar membawa kebijaksanaan, dan mana yang sekadar jualan kehebohan."
Kaum Sofis di Ruang Digital
Hari ini, fenomena ribuan tahun lalu itu terulang kembali di panggung yang berbeda. Ruang publik kita—khususnya media sosial—mulai dibanjiri oleh kaum Sofis masa kini.
Bedanya, imbalan yang dikejar hari ini bukan lagi koin emas, melainkan traffic, jumlah pengikut, hingga pundi-pundi adsense. Media sosial penuh dengan figur yang tergesa-gesa angkat suara atas setiap isu yang sedang hangat, tanpa analisis yang tajam apalagi kajian yang mendalam.
Bentuknya makin beragam: mulai dari permainan judul (headline) yang bombastis, opini instan, hingga narasi yang sengaja diproduksi untuk memancing emosi warganet. Pengetahuan tak lagi diposisikan untuk mencari kebenaran, melainkan sebatas komoditas demi mempertahankan atensi publik.